Sabtu, 21 Mei 2011

Pembuktian Keberadaan Tuhan Menurut Immanuel Kant

Pendahuluan
Tuhan adalah sebuah objek filsafat yang tak pernah kering dibahas. Sejak zaman Yunani kuno hingga zaman postmodern topik tentang tuhan tidak pernah usai. Tuhan dibahas dari segala aspeknya, mulai dari eksistensi-Nya, hakikat-Nya, sifat-Nya, dan kemungkinan penyatuan dengan-Nya.
Salah satu filsuf yang mencoba membahas tentang tuhan adalah Immanuel Kant. Immanuel Kant adalah salah satu filsuf yang hidup di zaman modern. Ia adalah seorang berkebangsaan Jerman. Immanuel Kant juga adalah pelopor aliran filsafat kritisisme, yaitu sebuah aliran yang mencoba mensintesiskan metodologi pemikiran aliran Empirisisme dan Rasionalisme. Kant juga salah satu tokoh etika terbesar dari zaman modern. Pemikiran etikanya tentang imperatif kategoris menjadi salah satu alternatif dalam penyelesaian masalah-masalah moral.
Meskipun Kant lebih dikenal sebagai filsuf yang berkecimpung dalam bidang epistemologi dan etika, tetapi kajian tentang tuhan pun tak luput dari penelaahannya. Kant-lah yang menolak semua argumen logis tentang keberadaan tuhan, karena menurutnya argumen tersebut tidak absah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dari situ akhirnya Kant sampai pada kesimpulan Agnostisisme. Menurutnya masalah mengenai tuhan tidak bisa dibuktikan kebenarannya atau pun ketidakbenarannya. Objek tuhan berada di luar jangkauan rasio manusia, oleh sebab itu maka kita tidak akan pernah bisa memiliki pengetahuan tentang tuhan dan inilah yang disebut dengan agnostisisme.
Akan tetapi, Kant tidak berhenti di situ. Tampaknya ia merasa tidak puas dengan kesimpulannya akhirnya tersebut, dan ia terus mencoba mengkaji masalah tentang tuhan. Kant pun berakhir pada pernyataan bahwa meskipun kita tidak akan pernah bisa memiliki pengetahuan tentang tuhan, tetapi tuhan bisa diandaikan melalui postulat (hipotesis) moral.
Kritisisme Kant
Kritisisme adalah metode pencarian kebenaran yang mencoba mensintesiskan antara rasionalisme dengan empirisisme.
Menurut aliran rasionalisme, rasiolah satu-satunya sumber pengetahuan manusia. Ini berarti bahwa seluruh pengetahuan berada dalam pikiran manusia. Pengetahuan bersifat apriori atau terdapat dalam pikiran. Seluruh ide dan konsep sudah ada dalam akal budi manusia.
Sedangkan menurut aliran empirisisme, pengalaman pancaindra-lah satu-satunya sumber pengetahuan manusia. Dari pengamatan pancaindra manusia kemudian bisa mengetahui berbagai macam hal dan kemudian menyimpulkan berbagai macam hal tersebut ke dalam hukum-hukum. Segala sesuatu yang tidak bertolak dari pengalaman dan pengamatan pancaindra bukanlah sebuah pengetahuan tetapi hanya merupakan imajinasi dan ide-ide belaka. Artinya pengetahuan itu bersifat aposteriori atau setelah pengalaman.
Di sinilah Kant berperan menggabungkan keduanya. Menurut Kant baik aliran rasionalisme maupun aliran empirisisme keduanya adalah benar, tetapi hanya separuhnya saja. Kant berkata kendati seluruh ide dan konsep bersifat apriori di dalam rasio manusia tetapi ide dan konsep itu hanya bisa diaplikasikan apabila ada pengalaman.
Kant setuju bahwa pengalaman pancaindra adalah sumber pengetahuan, tetapi Kant tidak setuju bahwa pengalaman pancaindra satu-satunya sumber pengetahuan. Dengan kata lain rasio ikut menentukan konsepsi-konsepsi kita tentang dunia yang membentuk pengetahuan.
Menurut Kant, pengetahuan manusia muncul dari dua sumber utama yaitu pengalaman pancaindra dan pemahaman akal budi (rasio). Pengalaman yang diperoleh melalui pancaindra kita kemudian diolah oleh pemahaman rasio kita dan menghasilkan pengetahuan. Itu sebabnya pengetahuan manusia selalui bersifat apriori dan aposteriori secara bersamaan. Tanpa pengalaman indrawi maka pengetahuan hanyalah konsep-konsep belaka, tetapi tanpa pemahaman rasio pun pengalaman indrawi hanya merupakan kesan-kesan pancaindra belaka yang tidak akan sampai pada keseluruhan pengertian yang teratur yang menjadikannya sebagai sebuah pengetahuan.
Penolakan Argumentasi Tentang Keberadaan Tuhan
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa semua pengetahuan adalah sintesis antara rasio dan pengalaman empiris pancaindra. Pengetahuan bermula dari pengalaman pancaindra yang kemudian diolah oleh pemahaman rasio untuk menghasilkan sebuah pengetahuan yang menyeluruh dan teratur. Oleh sebab itu, maka segala sesuatu yang tidak bisa dialami oleh pancaindra tidak bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan, tetapi hanya sebagai sebuah hipotesis belaka.
Maka objek-objek seperti tuhan tidak bisa dibuktikan kebenarannya dan ketidakbenarannya karena tuhan berada di luar jangkauan pancaindra. Kita tidak akan pernah bisa mendapatkan pengetahuan tentang tuhan sejauh apa pun kita berusaha (agnostisisme).
Dari dasar inilah kemudian Kant menolak argumentasi-argumentasi yang mencoba membuktikan keberadaan tuhan.
Argumentasi pertama yang ditolak oleh Kant adalah argumentasi fisika-teologis. Menurut argumen ini, fakta di alam semesta membuktikan bahwa segala sesuatu itu memiliki keterarahan akan tujuan tertentu. Ada sebuah tatanan yang rapi di alam semesta yang menyebabkan alam semesta ini seperti telah ada yang mengatur. Semua makhluk hidup di alam semesta tidak ada begitu saja melainkan seakan-akan memiliki tujuan (telos) akhir. Dan tujuan akhir (causa finalis) dari semua keterarahan ini adalah menuju kepada tuhan, maka tuhan itu ada.
Dengan tegas Kant menolak argumen ini. Menurut Kant, pembuktian melalui data-data empiris secara teoritis tidak sah. Keterarahan yang dijadikan dasar pijakan argumen fisika teologis tidak secara langsung bisa membuktikan bahwa tuhan itu ada. Menurutnya; yang bisa disimpulkan dari argumen itu adalah adanya arsitek dunia yang aktivitasnya mungkin dibatasi oleh kapasitas makhluk padanya arsitek itu bekerja, dan bukan kreator dunia yang kepadanya segala sesuatu tunduk.
Argumen kedua yang ditolak oleh Kant adalah argumen kosmologis. Argumen ini didasarkan pada kontigensi di alam semesta (kosmos). Kontigensi artinya kemungkinan untuk ada atau tidak ada. Tetapi pada kenyataannya alam semesta ini ada, padahal alam semesta mungkin saja tidak ada. Oleh sebab itu maka alam semesta menjadi tidak niscaya alias kontigen. Karena alam semesta itu tidak niscaya pasti ia bergantung pada sesuatu yang niscaya, yang niscaya adalah tuhan. Maka tuhan itu ada.
Kant juga menolak argumen kosmologis ini. Menurut Kant, adalah benar sesuatu yang tidak niscaya (kontigen) pasti bergantung pada sesuatu yang niscaya. Akan tetapi, argumen ini hanya berlaku pada objek-objek indrawi saja. Tuhan adalah objek supraindrawi (tidak bisa diamati oleh pancaindra). Alam semesta adalah objek indrawi dan alam semesta bergantung pada objek yang supraindrawi (tuhan) adalah tidak sah secara logis. Argumen ini tidak serta merta membuktikan tuhan itu ada.
Sedangkan argumen ketiga yang juga ditolak adalah argumen ontologis. Argumen ontologis berpijak pada konsep tuhan sebagai entitas yang mahasempurna. Oleh karena tuhan mahasempurna itu berarti tuhan itu ada, karena apabila tuhan tidak ada maka tuhan tidak mahasempurna. Oleh sebab tuhan mahasempurna, maka tuhan ada.
Lagi-lagi Kant juga menolak argumentasi ini. Menurut Kant, esensi tidak dengan sendirinya menyertakan eksistensi. Ide atau konsep tentang sesuatu (seperti tuhan itu mahasempurna) tidak dengan sendirinya terkandung eksistensinya. Di dalam otak saya, saya berpikir bahwa saya mempunyai uang 100 juta. Pikiran saya itu nyata adanya, tetapi tidak berarti saya secara nyata memiliki uang 100 juta. Menurut Kant, kita tidak dapat menderivasikan (menurunkan) realitas dari konsep. Konsep saya mempunyai uang 100 juta tidak serta merta menjadikan saya memiliki uang 100 juta walaupun konsep tentang saya memiliki uang 100 juta itu benar adanya. Begitu pula konsep tuhan mahasempurna tidak serta merta menjadikan tuhan itu ada secara nyata.
Maka kemudian ada tidaknya tuhan tidak dapat dibuktikan. Kita sampai pada kesimpulan bahwa kita tidak akan pernah memperoleh pengetahuan tentang keberadaan tuhan dan ketidakberadaannya. Tuhan itu ada atau tuhan itu tidak ada kita tidak akan pernah sanggup membuktikannya. Tetapi meskipun begitu keberadaan tuhan masih bisa diandaikan (dipostulatkan) melalui hukum moral.
Tuhan Sebagai Postulat Hukum Moral
Kita telah mengetahui bahwa tuhan tidak bisa dibuktikan sebagai sebuah objek pengetahuan. Maka kemudian Kant menyatakan bahwa memang tuhan hanya bisa didekati melalui iman dan iman itu dilandasi oleh hukum moral.
Hukum moral mewajibkan kita untuk selalu melakukan kebaikan. Tetapi hukum moral ini mensyaratkan 3 hal utama, yaitu: kebebasan, keabadian jiwa, dan keberadaan tuhan.
Kewajiban tentu mengandaikan kebebasan. Kita bebas untuk tidak menjalankan hukum moral untuk melakukan kebaikan. Maka kemudian hukum moral menjadi wajib. Kebaikan menjadi wajib dilakukan. Apabila tidak ada kebebasan maka tidak akan ada kewajiban. Karena manusia bebas untuk melakukan atau tidak melakukan kebaikan maka kemudian muncul kewajiban untuk melakukan kebaikan.
Syarat yang kedua adalah keabadian jiwa. Hukum moral bertujuan untuk mencapai kebaikan tertinggi (summum bonum). Kebaikan tertinggi ini mengandung elemen keutamaan dan kebahagiaan. Orang dinyatakan memiliki keutamaan apabila perbuatannya sesuai dengan hukum moral. Dari keutamaan inilah kemudian muncul kebahagiaan.
Tetapi menurut Kant, manusia itu tidak akan selalu mencapai kondisi keutamaan. Tidak akan pernah manusia mencapai kesesuaian kehendak dengan hukum moral. Karena apabila manusia bisa mencapai kesesuaian ini tanpa putus maka itu adalah kesucian dan tidak ada manusia yang akan pernah mencapai kesucian mutlak. Manusia hanya akan selalu berusaha untuk mencapai kesucian itu, dan itu adalah perjuangan tanpa akhir. Karena egoisme dan sifat dasar manusia lainnya, maka perjuangan mencapai kesucian itu adalah perjuangan tanpa akhir. Oleh sebab itu, keutamaan yang menjadi elemen kebaikan tertinggi yang menurpakan tujuan akhir dari hukum moral tidak akan pernah bisa direalisasikan selama manusia hidup. Dengan kata lain kondisi ideal dimana terjadi kesesuaian antara kehendak dan hukum moral adalah jika manusia sudah tidak memiliki kehendak (mati), tetapi apabila setelah mati tidak ada kehidupan maka kondisi ideal itu juga tidak akan tercapai. Oleh sebab itu, maka hukum moral mengandaikan bahwa jiwa itu abadi. Bahkan setelah raga ini mati jiwa akan selalu abadi untuk mencapai kondisi ideal berupa kebaikan tertinggi.
Syarat yang ketiga adalah keberadaan tuhan. Telah dijelaskan bahwa kebaikan tertinggi atau summum bonum memiliki elemen keutamaan dan kebahagaiaan. Keutamaan adalah kesesuaian antara kehendak dengan hukum moral dan dari keutamaan inilah muncul kebahagiaan. Kebahagiaan sendiri adalah kondisi di mana realitas manusia sesuai dengan keinginan dan kehendaknya. Tapi hal itu tidaklah mungkin karena manusia bukan yang mahapengatur yang bisa mengharmoniskan dunia fisik sesuai dengan kehendak dan keinginannya. Tapi justru itulah yang diandaikan apabila kita memiliki keutamaan. Kebahagiaan diandaikan sebagai sintesis dari dunia fisik, kehendak, dan keinginan. Realitas inilah yang kemudian disebut tuhan. Tuhan adalah penyebab tertinggi alam sejauh alam itu diandaikan untuk kebaikan tertinggi atau tuhan adalah pencipta alam fisik yang sesuai dengan kehendak dan keinginan-Nya.
Apabila kita bertindak sesuai hukum moral maka akan membawa kita pada keutamaan dan keutamaan akan membawa kita pada kebahagiaan dan kebahagiaan adalah kondisi di mana terdapat kesesuaian antara alam fisik dengan kehendak dan keinginan. Dan yang memiliki kesesuaian ketiga elemen ini adalah tuhan. Maka, dengan berbuat baik kita akan sampai pada realitas keberadaan tuhan. Artinya hukum moral mengandaikan keberadaan tuhan.
Jika 3 syarat (kebebasan, keabadian jiwa, dan keberadaan tuhan) ini tidak diandaikan keberadaanya, maka runtuhlah sistem moral. Padalah sistem moral itu selalu ada. Kebaikan selalu ada dan manusia selalu mencoba mewujudkan kebaikan tersebut.
Penutup
Dari uraian di atas bisa diambil kesimpulan bahwa hukum moral mensyaratkan keberadaan tuhan. Tuhan memang tidak bisa dibuktikan secara logis tetapi bisa dibuktikan melalui hukum moral.
Ke-3 syarat hukum moral harus diandaikan ada, karena jikalau tidak ada maka sistem moral tidak ada, padahal pada kenyataannya kebaikan selalu ada. Maka oleh sebab itu, tuhan pun harus diandaikan ada.
Meskipun Kant hanya sampai pada pengandaian (postulat), tetapi ini kiranya bisa dijadikan salah satu dasar argumen untuk menjawab serangan para penentang keberadaan tuhan. Lagi pula apabila kepercayaan terhadap keberadaan tuhan bisa dibuktikan secara logis empiris, maka kepercayaan kepada tuhan tidak lagi menjadi soal iman melainkan sains.
Daftar Pustaka:
Hawasi. (2003). Immanuel Kant: Langit Berbintang di Atasku Hukum Moral di Batinku. Jakarta: Poliyama Widyapustaka.
Sitorus, Fitzgerald K. (2007). Immanuel Kant: Tuhan sebagai Postulat Akal Budi Praktis. Paper Diskusi Tuhan dan Agama di Mata Para Filsuf. PSIK Universitas Paramadina.
Irfan Syaebani, 21 Mei 2011. 16.34 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar