Jika ke Semarang jangan lupa untuk mengunjungi sebuah situs wisata yang dikenal dengan nama Lawang Sewu. Bangunan yang terletak persis di depan Tugu Muda Semarang ini merupakan sebuah bangunan cagar budaya bekas dari kantor Nederlansch-Indische Spoorweg Maastcappij (NIS). Bangunan ini didirikan pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907.
Bangunan ini dinamakan Lawang Sewu atau Pintu Seribu dikarenakan banyaknya pintu di bangunan tersebut, meskipun sebenarnya jumlah pintu di gedung ini tidak mencapai seribu buah. Hanya saja memang di setiap ruangan terdapat banyak daun pintu, setiap ruangan memiliki 19 daun pintu yang terdiri dari pintu kayu, pintu kaca, dan pintu geser. Saat ini Lawang Sewu sedang dalam proses pemugaran dan revitalisasi.
Situs Lawang Sewu menjadi terkenal setelah salah satu acara horor mistis mengadakan acara uji nyali di gedung ini. Gedung ini dianggap angker karena selama beberapa tahun memang terabaikan. Kemistisan ini masih menjadi daya tarik utama wisata Lawang Sewu terutama apabila berkunjung pada malam hari.
Kebetulan ketika ke Semarang saya baru sempat mengunjungi gedung ini pada malam hari dan hari itu pun tepat malam Jumat Kliwon. Maka ketika datang ke sana pada pukul 9 malam, penjaga Lawang Sewu dengan menggebu-gebu menawarkan paket wisata malam ini, karena menganggap momennya pas apabila ingin merasakan aura angker dari gedung ini. Dengan membayar tiket masuk 10 ribu per orang dan kewajiban dengan ditemani pemandu yang dibayar 30 ribu maka saya pun penasaran untuk merasakan wisata misteri Lawang Sewu ini.
Setelah membayar, maka pemandu mengajak kami ke gedung asrama yang berada di dalam komplek. Bangunan ini cukup seram, karena belum direnovasi sehingga masih dalam keadaan yang terabaikan. Selain itu juga di dalam gedung ini tidak ada lampu sama sekali sehingga gelap gulita melingkupi selama tur mengelilingi gedung. Satu-satunya cahaya hanya berasal dari cahaya senter sang pemandu.
Di gedung asrama ini tedapat kamar-kamar, ruang dansa, lorong-lorong, dan penjara air bawah tanah. Apabila ingin mengunjungi penjara air bawah tanah maka kita harus mengeluarkan biaya tambahan 10 ribu untuk menyewa sepatu boot.
Di tengah tur, sang pemandu menantang untuk melakukan uji nyali bagi yang berani. Uji nyalinya cukup sederhana, kita diharuskan jalan menelusuri lorong yang memisahkan ruang dansa dengan kamar-kamar yang panjangnya kurang lebih 100 meter. Di sepanjang lorong ini tidak terdapat cahaya sama sekali, kita harus berjalan paling banyak 2 orang secara bolak-balik. Karena penasaran saya pun mengikuti uji nyali ini. Berdua bersama teman saya, saya berjalan menelusuri lorong ini sesuai dengan petunjuk sang pemandu. Aura gelap dan dingin memang terasa ketika kami menyusuri lorong ini, tetapi sampai dengan kembali kami tidak merasakan sesuatu pun yang aneh atau pun horor. Yang heboh justru orang-orang yang menyaksikan aksi uji nyali kami. Mereka bercerita bahwa ketika kami kembali, bayangan kami bertambah menjadi 5, padahal ketika pergi bayangan kami cuma 2. Selain bayangan kami, 3 bayangan lain konon katanya adalah bayangan anak kecil dan 2 orang laki-laki. Selain itu, mereka juga mengatakan langkah kaki kami ketika berjalan seperti diseret-seret layaknya ada beban berat yang menggelayuti kaki kami selama berjalan di lorong tersebut. Padahal kami yang melakukan aksi uji nyali tidak merasakan suatu keanehan pun ketika berjalan menelusuri lorong tersebut dalam gelap.
Meskipun begitu, Lawang Sewu merupakan situs yang menarik untuk dikunjungi. Sisi sejarahnya yang kental membuat kita belajar banyak hal, selain itu keanggunan bangunannya membuat kita betah berlama-lama untuk sekedar berfoto.
Irfan Syaebani, 31 Januari 2012
0 comments:
Poskan Komentar