Minggu, 20 Desember 2009

Apa Perlunya Membaca Das Kapital ? (Oleh I Gusti Anom Astika)



Di dalam berbagai perbincangan tentang perkembangan ekonomi politik sebagaimana yang berlangsung selama satu hingga dua dekade terakhir di Indonesia, problematika kelaparan, dan kesengsaraan akibat kemiskinan seperti sesuatu yang berada di luar perkembangan itu. Ia serupa perbincangan tentang kepedulian sosial, dan bukan bagian dari ekonomi politik. Apakah kemiskinan atau kelaparan itu merupakan hasil dari penerapan kebijakan ekonomi tertentu, ataukah itu merupakan problem yang berlangsung bersama dengan penerapan kebijakan tersebut, semuanya seperti tidak ingin dihubungkan. Seperti yang tampak dalam perbincangan tentang korupsi yang marak belakangan ini, hampir tidak ada satu pun gagasan tentang “kepedulian sosial” tercakup di dalamnya. Seluruhnya berkutat pada proses hukum, dan tentang si A bicara apa dan kemudian dibantah oleh si B yang menganggap perbincangan si A tidak benar. Lebih-lebih ketika semua dimensi dalam perbincangan tersebut seperti disekap di dalam ruang isi penyadapan telepon yang dilakukan oleh sejumlah orang yang diduga terlibat dalam satu kasus korupsi tertentu. Tak satu pun gagasan tentang kaitan antara korupsi dan kemiskinan/pemiskinan masyarakat dapat berkembang di dalam perbincangan tersebut. Seolah-olah antara tindakan korupsi dan fenomena kemiskinan adalah sesuatu yang tidak mungkin dihubungkan oelah karena pemahaman terhadap fenomena korupsi dan fenomena kemiskinan/pemiskinan masyarakat kerap terjebak dalam partikularitas salah kaprah, yang tidak menghubungkan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain. Demikian juga dengan filsafat yang pada awalnya berusaha menjawab problem-problem irasionalitas dalam kehidupan manusia, baik itu dalam kerangka mempertanyakan berbagai fenomena alam maupun fenomena kehidupan sosial, pada perkembangannya kemudian menjadi semacam lembaga pembenar perilaku ataupun lembaga etik sebagaimana yang diinginkan para pemilik modal.

“Berusahalah sepenuh hidupmu, maka di sana ‘kan tampak dunia bahagia mendapatkanmu”, demikian kata seorang motivator di sebuah acara di stasiun televisi. Sementara bagaimana sebuah pemikiran berkemampuan menggelontorkan segala macam bentuk kritisisme di dalam masyarakat, seperti tidak pernah dipelajari dan seperti tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang filosofis. Pada titik ini pemikiran Marx tentang ekonomi, politik dan filsafat justru banyak memberikan pertanyaan terhadap filsafat. Salah satu contohnya adalah ketika Marx mempersoalkan pembredelan pers yang dilakukan pemerintah Prusia dengan menyatakan bahwa:

“Kebebasan adalah bagian esensial dari hakikat manusia sekali pun musuh-musuh kebebasan berusaha merealisasikan kebebasan dengan melawan realitas kebebasan; musuh-musuh kebebasan ini ingin merampas bagi dirinya sendiri permata agung kemanusiaan ini yang mereka tolak sebagai permata hakikat manusia...karenanya bahaya yang paling mematikan adalah kehilangan kebebasannya...”

“Dalam rangka melawan kebebasan pers, seseorang harus mempertahankan titik pijak bahwa ras manusia tidak memiliki kemampuan untuk mencapai kedewasaan...Jika ketidakdewasaan manusia merupakan alasan mistik yang dipergunakan sebagai ungkapan untuk melawan kebebasan pers, maka tindak pembredelan pers sebenarnya di dalam banyak hal adalah sarana yang paling rasional untuk meyakini bahwa manusia tidak pernah dewasa.”

Gagasan Marx yang tertuang pada dua alenia di muka setidaknya menggambarkan bagaimana peran filsafat seharusnya di dalam memjawab persoalan perubahan sosial. Bukan dalam arti filsafat harus terjun ke dalam politik praktis tetapi filsafat sebagai cara untuk membangun kritik terhadap keberadaan manusia yang filosofis, seperti tampak dalam gagasan tentang kebebasan. Bagaimana jika kemudian filsafat justru menjadi pembenar bagi gagasan kebebasan yang diajukan oleh kelas yang berkuasa?

Dalam hal ini Marx menjawab pertanyaan di muka secara eksplisit dalam tulisan The Poverty of Philosophy bahwa:
“Di Inggris, pemogokan-pemogokan telah secara teratur telah melahirkan penemuan baru dan penerapan mesin-mesin baru. Mesin-mesin adalah, boleh dikatakan, senjata yang dipakai oleh kaum kapitalis untuk menindas pemberontakan kerja yang dispesialisasikan. Keledai yang berswalaku, penemuan terbesar dari industri modern, telah melumpuhkan kaum pemintal yang sedang memberontak. Jika kombinasi-kombinasi (tindakan) dan pemogokan-pemogokan tidak berakibat lain daripada membuat usaha-usaha sang jenius mekanikal bertindak terhadap mereka akan tetap mempengaruhi pengaruh luar biasa terhadap industri.”

Memang, Marx menunjukkan tentang perlunya perlawanan terhadap pemikiran yang justru membelenggu kebebasan manusia walaupun sepertinya membebaskan manusia. Tetapi yang lebih penting di sini adalah pemahaman terhadap logika filosofis yang membenarkan pembelengguan atas kebebasan manusia. Seperti itulah bentuk perlawanan yang perlu dilakukan, mengambil posisi kritis terhadap segala hal yang membelenggu kebebasan manusia. Henri Lefebvre kemudian memperjelas pemikiran Marx dengan menyatakan bahwa:
“Setiap kemungkinan yang menghadirkan manusia selalu berhadapan dengan dua alternatif, yaitu alienasi yang lebih besar, dan akan disalienasi. Alienasi, seperti proses lainnya, akan cenderung menjadi nyata. Disalienasi dihasilkan melalui perjuangan yang sadar yang bergerak maju lebih sadar ketika kelas pekerja muncul di dalam tahapan sejarah—melawan alienasi. Di mana pun dan selalu manusia yang sosial, adalah yang memperbaharui, yang kreatif, sebagaimana juga di mana pun dan selalu manusia terbelenggu oleh pencapaiannya sendiri.”

Penjelasan yang diberikan oleh Lefebvre mungkin bisa menjadi satu daya bagi kita para pelajar filsafat, yang kerap bertanya-tanya tentang bagaimana masa depan lulusan filsafat. Pun realitas menunjukkan bahwa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, jurusan filsafat adalah jurusan yang tidak menjanjikan. Bagi kami dari komunitas Marx, mempelajari filsafat adalah cara untuk mempertanyakan semua yang tampaknya tersedia tapi nyatanya irasional, cara untuk bersikap kritis terhadap segala sesuatu yang tampak indah tapi justru membelenggu kehidupan manusia. Demikian juga buku Das Kapital yang menunjukkan dengan jelas bagaimana segala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia seperti tidak memiliki nilai apapun ketika masuk di dalam realsi-relasi sosial yang bersifat ekonomis, dan bagaimana relasi-realsi sosial sosial yang bersifat ekonomis itu dibentuk oleh kapitalisme.


Artikel oleh I Gusti Anom Astika dalam Buletin Komunitas Marx STF Driyarkara No. 1/2009

0 comments:

Poskan Komentar